Senin, 19 Desember 2011

Tentang Mahasiswa dan Prioritasnya



Oleh: Aulia Mulya Dewi
Foto: Mahasiswa FIKOM BSI pada Fase Study Oriented

Masa menjadi mahasiswa memang salah satu kesempatan dan peluang yang besar untuk mereka dalam rangka pengembangan skill setelah mereka diasah di SD-SMP-SMA. Lepas mengenyam bangku pendidikan dalam berbagai jenjang secara umum, mereka biasanya dikhususkan pada salah satu program studi di SMA, dan akhirnya mengerucut pada satu konsentrasi jurusan yang mereka pilih di perguruan tinggi favorit, atau perguruan tinggi pilihan orang tua mereka.
Secara definisi,
bahasan mengenai MAHASISWA ini terdiri dari 2 penggalan kata, yakni Maha dan Siswa. Maha berarti tinggi, dan Siswa berarti orang menuntut ilmu. Bukan berarti mahasiswa lantas diartikan orang yang punya tubuh tinggi sedang menuntut ilmu, tapi mahasiswa adalah orang yang sedang menuntut ilmu dan stratanya lebih tinggi daripada siswa yang terdaftar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Banyak hal yang terjadi dan dilewati saat kita menjadi seorang mahasiswa. Kadang kita juga lupa kalau dalam masa menjadi seorang mahasiswa ada beberapa fase yang harus dilewati, yakni fase adaptasi, fase study oriented, fase organisasi, dan fase skripsi.
Fase adaptasi adalah masa perkenalan mahasiswa terhadap kampus. Fase study oriented adalah fasa orientasinya studi, dimana banyak tugas kampus yang menyita perhatian kita. Fase organisasi adalah fasa dimana mahasiswa sedang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada. Fase Skripsi adalah fase dimana mahasiswa sampai di tingkat akhir masa perkuliahan, sebagai persyaratan untuk kelulusan kuliah.
Mahasiswa biasanya tidak bisa membedakan skala prioritas. Berdasarkan pengamatan di Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) Bandung, ada empat bagian tipe mahasiswa. Tipe Kupu-Kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) atau tipe Kutu-Kutu (Kuliah Tugas Kuliah Tugas), tipe Kunang-Kunang (Kuliah Nangkring-Kuliah Nangkring), tipe Kor (Kuliah Organisasi), dan tipe Kuker (Kuliah Kerja).   
Pada tipe Kupu-Kupu atau Kutu-Kutu, merupakan mayoritas dan sudah menjadi budaya khususnya di kalangan mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM). Mereka cerdas, tapi dalam praktiknya mereka kurang. Sosialisasi dengan lingkungan kurang seimbang, dan pada akhirnya dalam kepemimpinan mereka kelak cenderung Task Oriented karena kurangnya pemahaman akan pentingnya hidup dalam kelompok sosial dan terlibat dalam berbagai kegiatan guna mengimplementasikan ilmu yang didapatnya.
Pada tipe Kunang-Kunang, hampir lumlah seperti tipe Kupu-Kupu. Mahasiswa FIKOM ini cenderung senang hiburan disbanding study di kelas. Biasanya mereka sekedar karokean bersama, nangkring di Warmi (Warung Mami), futsal, sampai touring ke tempat-tempat indah di kota Bandung. Sekedar melepas penat setelah belajar di kelas.
Banyak mahasiswa yang mengalami euphoria jadi seorang mahasiswa. Lepas pengawasan dari orangtua, akhirnya membuat mereka merasa bebas dan lepas. Memang mereka menikmati masa muda sebagai mahasiswa yang gemar bersosialisasi, hanya saja praktiknya tidak jelas. Tujuannya buram, capaiannya nol. Hingga mereka melupakan esensi mahasiswa itu sendiri, yakni belajar dan aplikasi keilmuan.
Pada tipe Kor, menjadi selingan saja. Karena minat organisasi di mata mahasiswa FIKOM ini sangat rendah. Hanya sebagian kecil yang tampak sibuk dalam organisasi ataupun UKM. Namun ada baiknya, kalau misalnya kita kuliah sambil mengabdikan diri di organisasi kampus yang mampu menanamkan nilai serta membentuk idealisme dan jati diri sebagai mahasiswa sejati yang berkontribusi di lingkungan lewat disiplin ilmu yang dimilikinya.
Sayangnya, terkadang masih banyak dari kalangan yang antusiasnya mengurus satu organisasi, dia lupa tugas, lupa kuliah, sampai keteteran itu kuliah. Hal tersebut wajar, karena mereka setidaknya memberikan kontribusi positif bagi sesama mahasiswa, organisasi, serta lingkungan. Tapi sebaiknya diseimbangkan lagi biar ideal.
Begitupun tipe Kuker. Ada kelas khusus untuk mereka yang kerja sembari kuliah. Biasaya mereka masuk kelas malam. Jumlahnya pun lebih sedikit dari kelas regular. Mereka kreatif, mau membiayai biaya pendidikan mereka dengan uang sendiri, mau memanfaatkan peluang, dan berusaha mengaplikasikan ilmu mereka di dunia kerja meski kadang garapannya tidak nyambung dengan keilmuan mereka.
Sayangnya, saat seseorang sudah mengenal yang namanya uang, akan sangat sulit mengembalikan mereka ke jalan yang lurus sebagai seorang mahasiswa. rata-rata mereka lebih memilih kerja ketimbang masuk kuliah. meski gelar bukan segala-galanya, tapi orientasi mereka sebagai mahasiswa terabaikan. Sangat di sayangkan harusnya lebih flekxibel jadwal mereka.
Berdasarkan pemaparan diatas ternyata semua tipe terdapat kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Daei semuanya kita bebas memilih, apakah yang terbaik untuk kita dan masa depan yang akan diraih. Semua kembali kepada tujuan masing-masing mahasiswa, untuk apakah kuliah?
Artinya bagi mahasiswa harus berpikir ulang untuk memanfaatkan masa-masa menjadi mahasiswa dengan mengisi waktu senggang diluar jam kuliah dengan kegiatan bermanfaat. Apakah itu organisasi ataupun kerja. Namun tidak menutup kemungkinan untuk rekreasi, untuk sekedar melepas penat yang ada. Karena pada hakikatnya mahasiswa itu ada dua pilihan yakni, kuliah, kerja atau kuliah-organisasi. Pilih sesuai prioritas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar