Oleh: Aulia Mulya Dewi
| Foto: Mahasiswa FIKOM BSI pada Fase Study Oriented |
Masa menjadi
mahasiswa memang salah satu kesempatan dan peluang yang besar untuk mereka
dalam rangka pengembangan skill setelah mereka diasah di SD-SMP-SMA. Lepas
mengenyam bangku pendidikan dalam berbagai jenjang secara umum, mereka biasanya
dikhususkan pada salah satu program studi di SMA, dan akhirnya mengerucut pada
satu konsentrasi jurusan yang mereka pilih di perguruan tinggi favorit, atau
perguruan tinggi pilihan orang tua mereka.
Secara definisi,
bahasan mengenai MAHASISWA ini terdiri dari 2 penggalan kata, yakni Maha dan Siswa. Maha berarti tinggi, dan Siswa berarti orang menuntut ilmu. Bukan berarti mahasiswa lantas diartikan orang yang punya tubuh tinggi sedang menuntut ilmu, tapi mahasiswa adalah orang yang sedang menuntut ilmu dan stratanya lebih tinggi daripada siswa yang terdaftar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
bahasan mengenai MAHASISWA ini terdiri dari 2 penggalan kata, yakni Maha dan Siswa. Maha berarti tinggi, dan Siswa berarti orang menuntut ilmu. Bukan berarti mahasiswa lantas diartikan orang yang punya tubuh tinggi sedang menuntut ilmu, tapi mahasiswa adalah orang yang sedang menuntut ilmu dan stratanya lebih tinggi daripada siswa yang terdaftar pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Banyak hal yang
terjadi dan dilewati saat kita menjadi seorang mahasiswa. Kadang kita juga lupa
kalau dalam masa menjadi seorang mahasiswa ada beberapa fase yang harus
dilewati, yakni fase adaptasi, fase study oriented,
fase organisasi, dan fase skripsi.
Fase adaptasi adalah masa perkenalan mahasiswa
terhadap kampus. Fase study oriented adalah
fasa orientasinya studi, dimana banyak tugas kampus yang menyita
perhatian kita. Fase
organisasi adalah fasa dimana mahasiswa sedang aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa
(UKM) yang ada. Fase Skripsi adalah fase dimana mahasiswa sampai di tingkat
akhir masa perkuliahan, sebagai persyaratan untuk kelulusan kuliah.
Mahasiswa biasanya tidak bisa membedakan skala
prioritas. Berdasarkan pengamatan di Universitas Bina Sarana Informatika (BSI)
Bandung, ada empat bagian tipe mahasiswa. Tipe Kupu-Kupu (kuliah
pulang-kuliah pulang) atau tipe
Kutu-Kutu (Kuliah Tugas Kuliah Tugas), tipe Kunang-Kunang (Kuliah Nangkring-Kuliah Nangkring), tipe Kor (Kuliah Organisasi), dan
tipe Kuker (Kuliah Kerja).
Pada tipe Kupu-Kupu atau Kutu-Kutu, merupakan
mayoritas dan sudah menjadi budaya khususnya di kalangan mahasiswa Fakultas
Ilmu Komunikasi (FIKOM). Mereka cerdas, tapi dalam praktiknya mereka kurang. Sosialisasi dengan lingkungan kurang
seimbang, dan pada akhirnya dalam kepemimpinan mereka kelak cenderung Task Oriented karena kurangnya pemahaman
akan pentingnya hidup dalam kelompok sosial dan terlibat dalam berbagai
kegiatan guna mengimplementasikan ilmu yang didapatnya.
Pada tipe Kunang-Kunang, hampir lumlah seperti
tipe Kupu-Kupu. Mahasiswa FIKOM ini cenderung senang hiburan disbanding study
di kelas. Biasanya mereka sekedar karokean bersama, nangkring di Warmi (Warung
Mami), futsal, sampai touring ke tempat-tempat indah di kota Bandung. Sekedar melepas
penat setelah belajar di kelas.
Banyak mahasiswa yang mengalami euphoria jadi
seorang mahasiswa. Lepas
pengawasan dari orangtua, akhirnya membuat mereka merasa bebas dan lepas. Memang
mereka menikmati masa muda sebagai mahasiswa yang gemar bersosialisasi, hanya
saja praktiknya tidak jelas. Tujuannya buram, capaiannya nol. Hingga mereka melupakan
esensi mahasiswa itu sendiri, yakni belajar dan aplikasi keilmuan.
Pada tipe Kor, menjadi selingan saja. Karena minat
organisasi di mata mahasiswa FIKOM ini sangat rendah. Hanya sebagian kecil yang
tampak sibuk dalam organisasi ataupun UKM. Namun ada baiknya, kalau
misalnya kita kuliah sambil mengabdikan diri di organisasi kampus yang mampu
menanamkan nilai serta membentuk idealisme dan jati diri sebagai mahasiswa
sejati yang berkontribusi di lingkungan lewat disiplin ilmu yang dimilikinya.
Sayangnya, terkadang masih banyak dari kalangan yang antusiasnya mengurus
satu organisasi, dia lupa tugas, lupa kuliah, sampai keteteran itu kuliah. Hal tersebut wajar, karena
mereka setidaknya memberikan kontribusi positif bagi sesama mahasiswa,
organisasi, serta lingkungan. Tapi
sebaiknya diseimbangkan lagi biar ideal.
Begitupun tipe Kuker. Ada kelas khusus untuk
mereka yang kerja sembari kuliah. Biasaya mereka masuk kelas malam. Jumlahnya pun
lebih sedikit dari kelas regular. Mereka kreatif, mau membiayai biaya
pendidikan mereka dengan uang sendiri, mau memanfaatkan peluang, dan berusaha
mengaplikasikan ilmu mereka di dunia kerja meski kadang garapannya tidak nyambung dengan
keilmuan mereka.
Sayangnya, saat seseorang sudah mengenal
yang namanya uang, akan sangat sulit mengembalikan mereka ke jalan yang lurus
sebagai seorang mahasiswa. rata-rata mereka lebih memilih kerja ketimbang masuk
kuliah. meski gelar bukan segala-galanya, tapi orientasi mereka sebagai
mahasiswa terabaikan. Sangat di
sayangkan harusnya lebih flekxibel jadwal mereka.
Berdasarkan pemaparan diatas ternyata semua
tipe terdapat kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Daei semuanya kita
bebas memilih, apakah yang terbaik untuk kita dan masa depan yang akan diraih. Semua
kembali kepada tujuan masing-masing mahasiswa, untuk apakah kuliah?
Artinya bagi mahasiswa harus berpikir ulang
untuk memanfaatkan masa-masa menjadi mahasiswa dengan mengisi waktu senggang
diluar jam kuliah dengan kegiatan bermanfaat. Apakah itu organisasi ataupun
kerja. Namun tidak menutup kemungkinan untuk rekreasi, untuk sekedar melepas
penat yang ada. Karena pada hakikatnya mahasiswa itu ada dua pilihan yakni,
kuliah, kerja atau kuliah-organisasi. Pilih sesuai prioritas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar