Senin, 05 Desember 2011

Karena Membaca, Negara Maju

Oleh: Aulia Mulya Dewi

Enam puluh enam tahun lamanya Negara Indonesia telah merdeka. Benarkah telah merdeka? Apakah layak disebut merdeka jika masih banyak rakyatnya yang miskin? Apakah layak disebut merdeka jika tidak bisa mengolah kekayaan alamnya yang melimpah? Mengapa bisa demikian? Mengapa kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia sangat rendah? Semua itu karena kualitas pendidikan yang rendah pula. Padahal banyak lembaga pendidikan di Indonesia.

Bukan jumlah lembaga pendidikannya, namun kualitas lembaga pendidikan itulah yang menentukan keberhaasilan mendidik SDM yang ada. Mulai dari lembaga pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Kendati begitu
bukan berarti lembaga pendidikan yang salah. Jika kembali kepada diri sendiri, rakyat Indonesia sendirilah yang patut dipertanyakan. Mengapa bisa demikian? Karena minat baca rakyat Indonesia saja rendah. Terlebih lagi bagi kalangan mahasiswa Indonesia.

Sebagai Seorang pelajar atau mahasiswa memiliki kewajiban untuk terus belajar demi menambah wawasan dan meningkatkan prestasi dalam kuliah. Salah satu hal yang juga mempengaruhi prestasi adalah minat baca mahasiswa itu sendiri. Kadang masih banyak kita temukan beberapa mahasiswa yang minat bacanya masih kurang. Jangankan membaca buku pelajaran atau modul kuliah, membaca buku novel yang menarikpun kadang masih enggan. Hal ini tentu sangat berpengaruh kepada kehidupan seorang mahasiswa, terutama dalam hal prestasinya di kampus.

Padahal banyak manfaat membaca yaitu, terhalang masuk kedalam kebodohan, mengembangkan kefasihan dalam bertutur kata, membantu mengembangkan dan menjernihkan cara berpikir, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman. Dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Masih banyak hal positif yang didapatkan karena membaca. Dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat. Lebih lanjut lagi, ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap dan memahami apa yang tersirat dalam sebuah konsep. Disamping itu, adapun dampak negaatif dari membaca. Jika bacaannya negatif maka akan berpengaruh terhadap pembaca.

Kendati begitu, sebagai mahasiswa Indonesia harus menerapkan budaya membaca. Karena banyak manfaat yang didapatkan karena membaca. Bila minat baca mahasiswa saja kurang, bagaimana pengetahuannya bisa bertambah? Minat membaca saja sebenarnya masih rendah. Bayangkan, minat menulis justru berada di bawah minat membaca. Membaca itu referensi untuk menulis. Bagaimana bisa seseorang menulis jika tidak suka membaca. Ini tentunya sangat mengkhawatirkan.

Berdasarkan kajian yang dilakukan Human Development Index (HDI), kualitas manusia Indonesia berada di urutan 124 dari 187 negara. HDI adalah lembaga kajian yang berada di bawah naungan UNDP (United Nations Development Progamme). Rendahnya budaya membaca itu bisa dilihat dari jumlah pengunjung perpustakaan, baik perpustakaan daerah maupun kampus. Sebagai contoh, jumlah pengunjung perpustakaan di Universitas BSI Bandunga adalah 42 orang perhari. Padahal jumlah mahasiswa BSI sekitar 2000 orang.

HDI merilis data kualitas manusia di seluruh dunia yang dikelompokkan dalam empat tingkatan. Masing-masing tingkatan diisi sebanyak 47 negara. Pertama, negara dengan kualitas manusia yang sangat bagus. di antaranya Singapura, Jepang, dan Belanda. Kedua, negara dengan kualitas manusia yang bagus. Beberapa negara yang masuk kelompok ini adalah Malaysia, Saudi Arabia, Libanon, dan Iran. Ketiga, negara dengan kualitas manusia sedang atau menengah di antaranya Indonesia, Thailand, Irak, Afrika Selatan, dan 46 negara lainnya. Keempat, adalah negara negara dengan kualitas manusia yang rendah di antaranya Timor Leste, Kenya, Bangladesh, dan Republik Kongo di urutan paling bawah.

Minat baca masyarakat  akan terwujud  kalau semua pihak dari mulai pemerintah, kalangan swasta, pustakawan, dunia pendidikan,  Orang tua, pecinta buku maupun  elemen masyarakat  mau duduk bersama-sama satu meja dan sama-sama berusaha untuk saling melengkapi dari apa yang kurang dan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai tujuan bersama yaitu mencerdaskan masyarakat melalui  pemasyarakatan perpustakaan. 

Pada kalangan mahasiswa, Peranan dosen dan orang tua dalam budaya membaca. Bagi para dosen, hendaknya memberi tugas yang membutuhkan banyak wacana. Ini adalah cara meningkatkan minat baca mahasiswa dengan sedikit paksaan, karena mau tak mau, mahasiswa pasti akan mencari dan membaca banyak buku. Sedangkan bagi para orang tua, biasakanlah membaca di dalam keluarga, sehingga seorang mahasiswa pun akan terbiasa bergelut dengan banyak buku. Tak harus buku pelajaran yang biasanya membuat mahasiswa jenuh membacanya, tapi juga bisa bacaan ringan, misalnya membaca buku cerita (novel), koran atau majalah.

Untuk mensiasati agar masyarakat gemar membaca dan menjadi kebutuhan sehari-hari, maka tidak ada jalan lain peranan orang tua sangat dibutuhkan dengan cara membiasakan anak-anak usia dini untuk mengenal apa yang dinamakan buku dan membiasakan untuk membaca, dan bercerita terhadap buku yang dibacanya. Hal ini harus dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus dengan harapan akan terbentuk kepribadian yang kuat  dalam diri si anak sampai dewasa, sehingga membaca adalah suatu kebutuhan bukan sekedar hobi melulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar