Senin, 09 Januari 2012

Benarkah Budaya Sunda Sudah Punah?


Seorang bapak sedang memainkan Karinding
Oleh: Aulia Mulya Dewi

Pernah mendengar Gedur? Bagaimana dengan Karinding, nama yang mungkin sangat asing di telinga. Kata paling dekat yang mungkin sering didengar adalah kata merinding, sayangnya karinding sama sekali tidak ada hubungannya dengan kata merinding. Jadi, apakah gerangan karinding itu? nama makanan kah? sejenis binatang kah?
Karinding adalah sebuah alat musik khas sunda, begitupun dengan Gedur. Namun kini keberadaannya perlu ditanyakan, khususnya bagi orang sunda. Apakah masih mengenal alat musik tersebut? Kebanyakan generasi muda suku sunda tidak mengenal alat musik khas sunda seperti itu.
Ada memang musik-musik khas sunda itu. Masih ada namun tidak sekental dahulu. Adapun seperti musik
Panayagan atau biasa disebut Gamelan, yang terdiri dari Kendang, Rebab, Goong, Saron, Suling, Kacapi, dan Bonang. Sungguh disayangkan karena musik tradisional itu hanya ada di acara-acara pernikahan, bahkan tidak semua. Karena banyak pesta pernikahan yang dilakukan di gedung ataupun masjid.
Berdasarkan survey terhadap Mahasiswa FIKOM Universitas BSI Bandung, dalam daftar main/ playlist  musik di handphonenya sangat jarang ada musik sunda. Adapun hanya lagu pop sunda modern seperti lagunya Kustian-Budak Jalanan atau Darso.
Bukan hanya alat musik tradisional, sama saja halnya dengan bahasa sunda.Pada kenyataannya masih banyak orang sunda, yaitu keturunan sunda asli namun tidak mengenal bahasa sunda. Sulit memang “anak-anak jaman sekarang taunya yang kasar,” ujar Irvan, mahasiswa FIKOM Universitas BSI Bandung.
Sungguh ironi, padahal banyak orang sunda asli, menurut irvan, mereka seperti itu karena terbawa arus globalitas. Kendati begitu kebudayaan sunda itu suatu tradisi turun temurun yang harus dilestarikan, karena budaya itu adalah jatidiri orang sunda.
Sebenarnya musik sunda itu bisa dikatakan tidak punah, karena sampai sekaranh masih dilestarikan. Contohnya sekarang ini ada komunitas-komunitas seperti Karindig Attack (Karat) da Karinding Militan (Karmila). Mereka adalah anak-anak muda dari komunitas underground Bandung yang melestarikan alat musik sunda tradisional seperti, Kariding, celempung, haleuang, dan masih banyak lagi.
Karena komunitas tersebut, bahkan mereka juga melestarikan aksara sunda yang selalu diadakan setiap hari jumat di gedung Indonesia Menggugat. Kegiatan tersebut dilakukan secara cuma-cuma. Sedangkan soal masalah bahasa sunda itu sebaiknya dibudayakan dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Sebenarnya bahasa sunda bukan hanya menjadi muatan lokal saja, namun penerapannya masih kurang.
Menurut Adityarahman, Mahasiswa FIKOM BSI, secara tidak langsung bahasa sunda sudah menjadi bahasa utama meskipun belum menggunakan undak-unduk basa yang benar di Kota Bandung ini. Tinggal bagaimana kita melestarikan dan menjaganya saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar