Senin, 12 Desember 2011

Bibit Entrepreneur Kurangi Pegangguran


Kuasai dunia dengan Entrepreneur
Oleh Aulia Mulya Dewi
Musim sekolah semester ganjil hampir usai. Sama seperti tahun lalu, kali ini kita menaksir apa yang terjadi pada pendidikan di Indonesia. Tetapi tentang perihal pendidikan sekolah, tidak jelas benar apa sesungguhnya yang sedang kita ratapi. Apakah itu tentang mutu pendidikan? Tentang tidak nyambung-nya pendidikan dengan rekontruksi Indonesia? Tentang tak terkaitnya persekolahan dengan pertumbuhan ekonomi? Ataukah tentang pertanyaan “untuk apa pendidikan sekolah?”
Semua itu bisa dilihat dari keterserapan lulusan SMA, SMK, dan Perguruan Tinggi. Tidak peduli apakah itu lulusan sekolah negeri ataupun swasta. Pada kenyataannya masih banyak pengangguran di Indonesia. Padahal sangat jelas kekayaan alam Indonesia yang sangat melimpah dapat dimanfaatkan sedemikian rupa. Apakah itu dengan mengelola sebuah perusahaan yang memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) ataupun dengan berwirausaha.
Tentang wirausaha, bukankah  Rasulullah SAW mencontohkan kepada umat islam untuk berdagang? Lalu mengapa masih banyak orang ogah-ogahan untuk berwirausaha? Itu karena masih rendahnya jiwa wirausaha di Indonesia. “Bangsa kita masih senang menjadi karyawan, baik pegawai swasta maupun negeri. Belum banyak yang berkeinginan terjun di bidang wirausaha,” kata H. Dadang M. Naser, Bupati Bandung (Pikiran Rakyat 8/12).
Jiwa wirausaha (etrepreneur) bangsa Indonesia masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan Singapura atau Malaysia. Dari jumlah penduduk Indonesia sekarang yang mencapai lebih dari 200 juta jiwa, baru 2 persen yang bergerak di bidang wirausaha. Sementara Singapura sudah mencapai 17 persen dan Malaysia sudah mendekati angka 11 persen.
Kendati begitu, tidak jarang jika studi kewirausahaan di terapkan di sekolah kejuruan ataupun perguruan tinggi. Pelajaran kewirausahaan pada dasarnya adalah praktiknya,bukan sekedar teori. Berdasarkan penelitian, mash banyak siswa atau mahasiswa yang ogah-ogahan untuk berwirausaha. Gengsi di kalangan sekolah ataupun perguruan tinggi masih sangat tinggi.
BSI Entrepreneur Center
Sebenarnya telah banyak pelatihan-pelatihan dan seminar seminar tentang kewirausahaan. Apakah itu di sekolah negeri ataupun swasta. Sampai tingkat perguruan tinggipun diadakan seminar-seminar tersebut. Adapun Perguruan Tinggi Swasta yang membentuk suatu wadah berwirausaha. Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) salah satunya yaitu dengan BSI Entrepreneur Center (BEC).
Menurut Kepala BEC, M.Islahudin S.Kom dengan adanya lembaga ini mahasiswa dan alumni BSI, dapat mengembangkan kegiatan kewirausahaan kampus serta memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka yang mau mengembangkan bisnis sesuai dengan bidang yang diminati.
Tujuan utama lembaga yang dipimpinnya adalah untuk memberikan paradigma baru kepada mahasiswa tentang dunia kewirausahaan. Termasuk menumbuhkan jiwa dan mental kewirausahaan kepada mahasiswa dan alumni BSI. Selain itu, BEC ditujukan untuk menjadi fasilitator dan mediator antara dunia kampus dengan dunia usaha, membutuhkan incubator bisnis kampus, dan memberikan masukan tentang kurikulum kampus.
Selain itu, adapun peran pemerintah dalam menumbuhkan kaderisasi terhadap mahasiswa (generasi muda) agar senang berwirausaha atau berkoperasi. Untuk menumbuhkembangkan kehidupan koperasi sudah begitu banyak kemudahan dalam memperoleh modal dari perbankan. Persoalan modal itu mudah dicari yang terpenting adalah bagaimana menguasai pemasarannya.
Jiwa dan semangat entrepreneur sangat penting diterapkan sejak dini. Dengan adanya pengetahuan ini, mahsiswa akan dihadapkan suatu pilihan yang tepat baginya termasuk menciptakan lapangan kerja untuk dirinya dan orang lain. Dengan adanya pilihan menjadi entrepreneur, seorang mahasiswa akan lebih berkontribusi terhadap masyarakat lainnya. Sebagai contoh jika 2000 lulusan Perguruan Tinggi menciptakan lapangan kerja baru, sehingga mampu mempekerjakan dua atau tiga orang lainnya, dengan demikian dapat mengurangi pengangguran sebanyak 6000 lulusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar