Senin, 21 November 2011

Gak Jaman Mahasiswa “Gengsian”

Aulia di Perpustakaan Masjid Salman ITB
Oleh: Sarah Dibya P.
“Malu jadi benalu, Malu kalo Cuma minta melulu!” kata Yulikuspartono (Mas Yulee), pada Seminar Motivasi (Semot) BSI. Kata-kata itulah yang mengispirasi Aulia Mulya Dewi untuk menjadi mandiri. “Malu dong udah jadi mahasiswa kok masih minta sama orang tua,” ujar Aulia. Iapun tidak merasa gengsi untuk berjualan di kampusnya “Gak jaman lah ya Mahasiswa gengsian!” tegasnya.

Tujuan awalnya ia berwirausaha adalah untuk mendapatkan uang, namun uang disini bukan untuk kebutuhan pribadinya saja. Ia mengaku, mulanya uang itu untuk dibelikan hadiah kepada orang lain. Baik kado ulang tahun sampai kado pernikahan. Ia akan merasa gembira jika orang-orang terdekatnya diberi hadiah.

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas BSI Bandung ini memulai satu usaha kecil-kecilan di kampusnya itu. Ia dikenal sebagai penjual “Potatonat” alias donat kentang. Teman-teman sekelasnya selalu membeli makanan yang dijualnya itu. Karena harganya ramah lingkungan, selain itu makanan yang dijualnya dapat mengenyangkan perut. “Jelas bikin perut kenyang, soalnya bahan utamanya kan kentang,” jelas Aulia.

Potatonat Keju
Wanita kelahiran 2 Januari 1994 ini mengaku, ide menjual donat kentang bermula dari ibunya yang senang membuat kue-kue. Jiwa wirausaha itu memang telah tertanam sejak ia duduk di kelas 1 SMK. Karena ada pelajaran kewirausahaan-lah yang mengharuskan Aulia melakukan usaha. Pada mulanya di SMKN 7 Bandung, ia  berjualan kue bolu kukus. Ibunya bersedia membuatkan kue-kue itu.

Keuntungan dari usaha kecil-kecilannya itu lebih dari cukup untuk uang sakunya sehari-hari. Selain untuk jajan, ia juga tetap menyisihkan untuk menabung di bank dan untuk sedekah. Semangat Aulia berwirausaha menular kepada adik kandungnya. Adiknya yang masih duduk di bangku SMP juga berjualan potatonat.

Sebagai cabang kedua, bisa dibilang adiknya sukses karena setiap hari potatonat selalu habis terjual. Selain itu, Aulia juga membuka cabang ketiga di Institut Teknologi Bandung (ITB). Rekannya Arif, menawarkan diri untuk menjual potatonat yang dijualnya di komleks Masjid Salman ITB.

Lalu bagaimana dengan biaya kuliahnya? Aulia berusaha untuk tetap mendapatkan beasiswa. Karena ayahnya hanya bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Sebelum daftar kuliah, ia menjadi aktifis di Masjid Salman ITB. Aulia menjadi kontributor di web resmi Salman yaitu salmanitb.com. Selama bulan ramadhan ia selalu meliput kegiatan-kegiatan yang ada di Masjid Salman.

Beasiswa Aktivis Salman
Alhasil ia ditawarkan untuk mendapatkan Beasiswa Aktifis yang ada di Salman. Beasiswa itu sebesar 400 ribu rupiah tiap bulannya. Jika uang beasiswa itu terkumpul sampai 6 bulan, maka lebih dari cukup untuk melunasi biaya kuliah selama satu semester sebesar 1,8 juta. “Alhamdulillah, seneng banget bisa kuliah tanpa biaya orangtua,” katanya.

Pekerjaannya sebagai freelance jurnalis, membuatnya bisa masuk kelas reguler, tanpa masuk kelas karyawan. Tidak terikat, namun setiap bulannya harus selalu memberikan kontribusi kepada Masjid Salman ITB untuk terus “Menulis”. Karena cita-citanya sendiri adalah untuk menjadi seorang Penulis. Baik itu menulis fiksi ataupun nonfiksi. Ia berambisi “Pokoknya Menulis! Saya harus punya Self Publishing percetakan buku!”

klik link http://salmanitb.com/2011/11/pengumuman-beasiswa-salman-periode-2011-2012/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar