Minggu, 20 November 2011 I 12:53
Perpisahan kedua orang tua biasanya berdampak negatif tarhadap psikologis anak. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi bagi Sarah Dibiya Purnamasari yang akrab disapa Sarah. “Biasa aja, mau gimana lagi karna udah terjadi. Waktu tak akan pernah
terulang kembali,” ujarnya. Mahasiswi Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Uiversias BSI Bandung ini tetap tegar menghadapinya.Ketika wanita kelahiran 26 Februari 1994 menginjak usia remaja sesuatu hal yang tidak diinginkanpun terjadi. Saat ia masih duduk di bangku SMP kelas tiga satu bulan menuju Ujian Nasional Ayahnya lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT pada hari Kamis 10 April 2008 pagi. Semenjak kepergian ayahnya ia menjadi seorang yang lebih pendiam dan lebih sering menyendiri dan itu masih melekat sampai sekarang.
Dari situlah ia mulai merubah tingkah lakunya menjadi lebih baik lagi, dulu ia adalah seorang anak yang nakal, sering bertengkar dengan adik-adiknya, dan melawan terhadap orang tuanya. Kehilangan seseorang yang sangat penting dikehidupannya telah merubahnya menjadi wanita yang tegar, disiplin, dan mandiri.
Sejak kepergian Ayahnya, sarah tinggal dengan kaka perempuan dari almarhum Ayahnya di Bogor. Dari situ ia memulai kehidupan yang baru, lingkungan baru, sekolah baru, dan menemukan sahabat-sahabat sejati.
Ketika ia melanjutkan sekolah di SMKN 1 Bogor dengan jurusan multimedia. Ia mendapatkan pengalaman yang tak mungkin terlupakan, dimana ia belajar dari setiap hambatan yang dihadapi. Mulai dari tugas-tugas yang diberikan, konflik persahabatan, dan berbagai tuntutan dari keluarga, tetapi ia memiliki prinsip “hidup tanpa masalah itu enggak asyik”.
![]() |
| Teman-teman Sarah di SMKN 1 Bogor |
Semua hal yang menyenangkanpun mulai berangsur datang kembali, lewat kehadiran lima sahabat sejati.mereka adalah Dewi (we), Sabrina (nana), Yudi, Annisa (icha), dan Citra (mami). Merekalah yang telah memberikan warna kehidupan sarah kembali seperti semula. Suka dan duka yang dihadapi bersama selama tiga tahun lamanya telah membuahkan hasil yaitu mereka lulus bersama-sama dan melanjutkan perjalanannya masing-masing.
Jika kembali ke masa kanak-kanak, bagi sarah hal tersebut merupakan sangat menyenangkan, mengesankan, dan tidak mungkin terlupakan. Di SDN pasawahan VII Bandung, Sarah memiliki empat sahabat yang sangat baik mereka bernama Rinrin, Rini, Sela, dan Seli. Banyak hal yang dilakukan bersama-sama sehingga membuat mereka menjadi lebih akrab.
Masa Sarah anak-anak, ia tinggal dengan ayah kandung, ibu tiri, dan dua adik laki-lakinya. Mereka tinggal di rumah yang nyaman, lingkungan yang bersahabat, dan tepat di halaman depan ada pemandangan sawah yang menyegarkan mata, suasana yang sudah jarang dirasakan sekarang.
Menurut Sarah, kegagalan adalah guru dimasa depan jadi jangan takut untuk mencoba setiap hal baru yang sudah di depan mata. Walaupun kita kehilangan seseorang yang penting dalam kehidupan jangan terpuruk atau bersedih karena Allah telah merencakan sesuatu yang indah untuk kita.

, that's a true story !!! :)
BalasHapuslike this one...